Wihara Berpengaruh dengan Sejarah yang Kompleks
Dari abad ke-8 hingga ke-14, Wihara Buddha Daisenji dan kompleks kuil merupakan pusat utama dari kekuatan dan pengaruh. Dengan lebih dari 100 wihara dan 3.000 “prajurit” pendeta bersenjata, kekuasaan Gn. Daisen setara dengan Gn. Hiei , Gn. Yoshino , dan Gn. Koya .
Menuju Lokasi
Bus-bus lokal beroperasi sekitar lima kali sehari, dengan jalur antara Stasiun Yonago dan Gn. Daisen . Bus keliling beroperasi dari Stasiun Yonago menuju tempat-tempat wisata utama Daisen selama musim puncak, akhir pekan, dan hari libur.
Agama Sinkretis
Gunung Daisen dianggap sebagai gunung sakral dan dulunya merupakan pusat pelatihan pertapaan gunung bagi para biksu, sebuah praktik hidup di alam liar dan menahan diri dari kenyamanan dunia modern.
Asal mula Wihara Buddha Daisenji berawal dari abad delapan, ketika Gn. Daisen adalah tempat utama dari Shugendo, agama sinkretis yang memadukan elemen Shinto, Buddha, Syamanisme, dan pemujaan gunung. Shugendo didirikan pada abad ketujuh oleh En No Gyoja, pertapa gunung dan penganut paham mistik.
Sejarah
Wihara Buddha Daisenji merasakan efek yang besar dari gerakan anti-Buddha haibutsu kishaku setelah Restorasi Meiji tahun 1868. Wihara ini terpaksa ditutup pada tahun 1875, dan boleh dibuka kembali pada tahun 1903 sebagai bagian dari Sekte Tendai dalam agama Buddha.
Aula Utama
Aula utama yang luar biasa indah, Dainichido, hancur oleh kebakaran pada tahun 1928 dan dibangun kembali dengan susah payah pada tahun 1951. Aula ini berisi patung Jizo Bosatsu. Aula Amida-do yang indah sudah ada sejak tahun 1131 dan berisi tiga pahatan kayu Buddha Amida, yang semuanya dikategorikan sebagai Properti Kebudayaan Penting.